Makna Lebaran

Sesaat setelah adzan maghrib di hari terakhir bulan Ramadhan 1435H berkumandang, gema takbir pun serentak terdengar di berbagai penjuru dunia. Pertanda bahwa usai sudah perjuangan kita sebulan penuh berpuasa, menahan hawa nafsu, serta meningkatkan ibadah kita serta-merta untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ini pula menjadi pertanda bahwa telah datang hari yang sering disebut sebagai Hari Kemenangan, Ied al-Fitr, Idul Fitri. Atau kalau orang Indonesia sering bilang, Lebaran. Tapi apa arti dari Lebaran itu sendiri?

Tidak, saya tidak akan membahas tentang makna lebaran dari sudut pandang religius. Ilmu saya masih terlalu sedikit untuk membahas hal tersebut. Lagipula, hal ini tentu sudah sering kita dengar setiap shalat Ied selesai dilaksanakan. Di berbagai media pun telah banyak dibahas mengenai makna lebaran seperti pada artikel berikut.

Disamping makna sesungguhnya yang terkandung dalam Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, ada beberapa hal yang menurut saya adalah “Makna Lebaran yang Sesungguhnya”, yang ada dan membudaya di (mungkin) hampir seluruh Indonesia. Secara garis besar ada 3 makna lebaran yang saya alami di tahun ke-18 saya berada di dunia.

  • Kepo Moment of The Year

Kepo. Atau dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar memiliki arti “Rasa Ingin Tahu yang Teramat Besar” sepertinya telah membudaya dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang rasa ingin tahu-nya sangatlah besar dan hal itu memuncak di Hari Lebaran. Dimana setiap-setiap orang yang tergabung dalam suatu keluarga besar akan saling bersilaturahmi di suatu tempat.

Kepo disaat lebaran biasanya terdiri dari pertanyaan berlapis yang tiada habisnya. Mulai dari hal yang paling umum hingga hal yang paling men-detil pun tak akan luput dari ke-kepo-an saudara-saudara kita, terutama mereka yang satu generasi dengan orang tua kita maupun generasi diatasnya lagi.

17 Tahun saya berhasil sedikit banyak menghindari momen ini. Bukan karena saya sombong atau apa, terkadang saya tidak berminat untuk menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang. Beruntung, sebagai anak lelaki tertua ayah saya selalu ditunjuk untuk menjadi tuan rumah silaturahmi keluarga ini. Sehingga saya bisa sedikit melarikan diri ke kamar atau ke minimarket untuk membeli sesuatu yang mungkin dibutuhkan.

Namun tahun ini itu tidak bisa dilakukan. Jauh hari sebelumnya, ayah telah mewanti-wanti saya untuk selalu ada di ruang keluarga dan juga mengikuti “Safari Lebaran” ayah yang selalu saya hindari setiap tahunnya. Dan habislah saya dihantam pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Untung ada saudara yang cantik sehingga bisa sedikit menghibur hati, sayang tidak bisa digebet

  • Menunjukkan Eksistensi/Prestasi Diri

Poin ke-2 sebenarnya merupakan lanjutan dari apa yang telah saya jabarkan di poin pertama. Biasanya, orang-orang yang di-kepo-in akan memanfaatkan momentum tadi untuk menunjukkan eksistensi diri. Berbagai hal pun akan dengan senang hati mereka ucapkan, tentunya yang positif. Walau entah dilebih-lebihkan atau memang begitu adanya.

Berbagai hal dilontarkan, mulai dari salah satu saudara ayah yang terpilih (lagi) sebagai anggota dewan tanpa money politic (katanya); bagaimana beberapa dari mereka secara langsung membantu pasangan capres-cawapres yang berkompetisi; hingga kabar anak mereka yang masuk ke sekolah unggulan maupun PTN. Intinya satu, nyombong.

  • Napak Tilas Keluarga Besar

Ini merupakan momentum yang sangat membosankan dan sangat menarik di waktu yang bersamaan. Saya selalu tertarik untuk mendengarkan cerita apalagi yang akan dikeluarkan mengenai sejarah siapa nenek moyang kami. Tentang bagaimana kisah kejayaan mereka dan pengaruhnya terhadap kami para keturunannya. Juga tentang bagaimana nenek moyang kami banyak berpengaruh di wilayah asal kami.

Namun ini mulai membosankan ketika mereka mulai menaruh ekspetasi yang sangat tinggi kepada kami para anak yang kadang tidak terlalu peduli dengan hal keturunan seperti ini. Saya dan seorang saudara bernama Reza selalu menjadi incaran topik ini karena kami adalah anak lelaki tertua keluarga ini.

Sekedar info–entah di keluarga kalian–tapi di keluarga kami setua apapun kakak-kakak kami, bila mereka perempuan maka sedikit berkuranglah beban ekspetasi mereka. Sementara kami yang disebut lelaki tertua inilah yang menanggung berbagai ekspetasi untuk menjaga nama keluarga blablabla.

Sebuah motivasi dan tekanan yang sangat besar disaat bersamaan.

 

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: