Prologue

April 2014

Matahari telah naik kembali ke singgasana-nya setelah sekitar 12 jam membiarkan sang Rembulan menjadi penjaga Bumi yang sudah lelah menampung beban yang berlebih. Matahari dengan segala kerendahan hati mulai menyapa satu-persatu makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya kepada Bumi. Dengan lembut sang Matahari memeluk mereka semua dengan cahaya pagi yang sangat hangat sehangat Indomie rebus yang disajikan kala hujan menerpa, wuih. 

Kehangatan Matahari tidak mengenal suku, ras, agama, ataupun batasan lainnya. Ia dengan adil memberikan kehangatan kepada setiap orang. Ia pergi ke segala penjuru Bumi, bahkan melewati celah sekecil apapun. Termasuk celah antara dua kain gorden yang menutupi jendela kamar gadis itu. 149.600.000 km yang memisahkan Bumi dan Matahari tampak tidak berarti ketika cahayanya berhasil masuk dan jatuh tepat di wajah gadis tersebut.

“Hey, bangun! Kau mau tidur sampai kapan?” ujar seorang gadis lainnya-setengah berteriak- sambil melangkah masuk ke dalam kamar tersebut. Gadis yang baru masuk itu dengan sedikit kasar menarik selimut yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh gadis yang lebih muda darinya. Karena tenaga yang dikeluarkan sedikit agak besar, gadis yang lebih tua itu berhasil menarik selimut tersebut beserta orang yang berada didalamnya.

BRUK!

“Kakak!!!!!” gadis yang lebih muda itu berteriak sambil mengelus kepalanya yang dengan sukses mendarat lebih dulu dibanding anggota tubuh lainnya. Namun gadis yang lebih tua itu tidak menghiraukannya sama sekali. Ia langsung beranjak meninggalkan adiknya yang masih kesakitan di lantai kamar.

“Selalu saja begitu, gabisa sabar dikit apa ya?” gerutu si kecil sambil merapihkan kembali kasurnya. Tidak berapa lama setelah itu, si kecil menuruni tangga rumahnya dengan berseragam lengkap dan membawa tas sekolahnya. Si kecil mendapati kakaknya sedang mencuci piring bekas makannya sementara porsi sarapan si kecil masih terpampang indah diatas meja makan.

Si kecil masih tidak terbiasa dengan situasi ini. Sebulan yang lalu –walau dia hampir selalu bangun dengan cara yang sama– dia akan mendapati ibu-nya yang sedang menyiapkan sarapan maupun ayahnya yang sedang menikmati secangkir kopi sembari melihat peristiwa terkini di televisi. Namun siapa yang mengira bahwa keduanya akan pergi begitu cepat, meninggalkan si kecil dan kakaknya hanya berdua.

“Seina, ini bekalmu. Kakak berangkat duluan, jangan lupa kunci pintunya” ujar Fukuoka Nana–siswi kelas 2 SMA Majisuka–seraya meletakan sebuah kotak makan yang telah dibungkus rapi diatas meja makan. Seina yang juga telah menyelesaikan makan paginya pun segera merapihkan peralatan makannya dan memasukan kotak bekal tersebut kedalam tasnya. Baru saja ia akan melangkah ke pintu depan sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamnya.

From: Minami_H0829@mail.co.jp

Subject: Cepat!!

Hey cepat, aku sudah didepan!!

-minami-

Seina yang merasa tidak perlu membalas pesan tersebut membuka mulutnya dan sedikit berteriak, “Iya sabar, ini mau pake sepatu”. Minami, pengirim pesan tersebut sedikit tertawa ketika mendengar suara temannya dari dalam rumah.

“Kesiangan lagi?” ujar Minami menyambut temannya yang baru keluar dari rumah dihadapannya.

“Bisa dibilang begitu, keasikan libur jadi lupa udah masuk sekolah haha” balas Seina seraya memastikan pintu rumah sudah terkunci dengan baik dan meletakan kunci tersebut di salah satu kantong tas yang dipegangnya.

Mereka berdua pun berjalan menuju sekolah mereka, SMP Sakura yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah Seina. Hamparan pohon Sakura yang bermekaran sejajar dengan sungai kecil yang memanjang sepanjang jalan yang dilalui kedua gadis tersebut. Burung-burung kecil saling bersahut-sahutan seperti anak-anak manusia yang saling menyapa rekan-rekan mereka yang berjalan menuju mimpi yang sama.

Mereka berdua berjalan serentak dan seirama sambil membicarakan apakah yang akan terjadi di sekolah selama setahun kedepan. Tanpa mereka sadari ada sesosok  misterius terus mengamati mereka berdua dari kejauhan. Seolah menanti saat yang tepat untuk muncul dan masuk kedalam hidup mereka, menuliskan sebuah cerita yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.


 

Advertisements
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: